Thursday, September 16, 2004

Remaja dan Perubahan Sosial

Remaja adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kekuatan bebas. Secara umum remaja sudah memiliki kemampuan fisik dan psikis yang memadai untuk berfungsi penuh sebagai seorang individu yang memiliki keinginan dan cita-cita hidup.

Remaja bersama keseluruhan semangat dan kekuatan yang dimilikinya menjadi tumpuan sekaligus sasaran perubahan. Mediasi antara berbagai kepentingan negara terhadap masa depannya menentukan bagaimana perlakuan negara tersebut, yang dalam hal ini adalah sistem pemerintahan dan perangkat pelaksananya, terhadap generasi mudanya.

Ada berbagai komponen dalam perubahan sosial yang kesemuanya menjadi bagian dari keseluruhan gerak suatu komunitas. Interpolasi antara pergerakan kepentingan dan pemenuhan kebutuhan tiap kelompok/bagian dalam masyarakat itulah, yang menentukan apakah perubahan sosial bergerak dalam kecepatan tertentu (baik itu gerak maju maupun gerak mundur) atau hanya cenderung diam.

Status quo dan remaja
Dinamika yang terjadi dalam keseluruhan komunitas remaja menjadikan komunitas tersebut hampir pasti bersifat anti status quo atau pro pergerakan sosial. Hanya mungkin yang menjadi kecenderungan banyak pihak adalah model atau landasan gerak apa yang ada pada remaja.
Remaja yang telah memiliki visi hidup tertentu akan cenderung melakukan respons dalam pola random dibanding pola tetap, sebagai bentuk dari upayanya untuk mengeksplorasi dirinya dan dunia dimana ia hidup. Namun karena belum ada penelitian terhadap hal ini maka ketentuan reaksi dari remaja itu belum bisa diukur; apakah random atau patterned (terpola) sifatnya. Salah satu fondasi yang bisa digunakan untuk memprediksi hal ini adalah indikator kepribadian; melalui inventorinya, dan indikator kepekaan sosial; melalui skala sikap. Tapi tulisan ini tidak akan mengangkat tentang metode penelitian sosial untuk meneliti sikap remaja terhadap status quo, melainkan hanya pembahasan umum terhadap wacana status quo dan pemikiran mengenai sikap remaja terhadap hal tersebut.

Seperti yang sudah dibahas diatas, remaja yang telah menemukan visi hidupnya, biasanya akan menemukan berbagai kekurangan dalam dunia dimana ia hidup dan akhirnya menjadi sangat kritis. Namun ini tidak bisa diharapkan dapat secara umum terjadi pada remaja. Hal ini adalah karena kemampuan untuk menemukan visi hidup adalah kemampuan kognitif tingkat tinggi dan tidak ditemui pada mereka yang kedaan operasi kognitifnya masih bergerak dalam kerangka realitas kongkrit saja.

Secara umum, kemampuan abstraksi terhadap realita berkembang sejak seseorang berumur sekitar 11 tahun. Operasi pemikiran seorang anak mulai bergerak dari tataran kongkrit ke tataran abstrak. Namun belum berupa operasi formal yang berlaku konstan sifatnya, dan masih berupa uji coba (trial and error).

Dengan berlandaskan pada teori tersebut, kita bisa mencermati bahwa remaja yang belum berkembang kemampuan formal operasionalnya masih memandang dunia sebagai realitas materi kongkrit dan menggunakan modal persepsi tersebut untuk memandang dunianya; dan menentukan berbagai keputusan, sikap dan perilakunya.

Secara umum, tidak hanya remaja, namun siapapun yang masih memandang dunia sebagai realitas materi kongkrit, akan cenderung untuk bergerak dalam tataran materi atau kalkulasi materi. Dan ini menyebabkan oversimplifikasi yang keteralluan terhadap realita. Karena sejatinya realita tidak hanya bersifat kongkrit, namun mengandung unsur abstrak yang porsinya sama besar.

Hal ini juga memberikan pengaruh yang nyata pada sikap individu tersebut pada realitas dunianya. Mereka yang belum atau tidak berkembang kemampuan formal operasionalnya (Piaget, 1971) ini hampir dipastikan akan bersikap pro terhadap kecenderungan mempertahankan keadaan (status quo).

Mengapa? Karena bagi mereka, terlalu sulit untuk menjamah masa depan dengan melakukan kalkulasi analitis. Kemampuan untuk melakukan prediksi, menganalisa situasi, mengambil sintesa dari berbagai proposisi; semuanya merupakan kemampuan abstrak dalam tataran operasi formal, sehingga belum atau tidak bisa dilakukan oleh mereka yang operasi berpikirnya masih dalam tataran kongkrit (realitas/ kalkulasi material). Dan karena wacana perubahan sosial adalah seuatu yang abstrak sifatnya, maka besar kemungkinan wacana ini tidak bisa dijamah oleh mereka yang kemampuan kognisi formal operasionalnya belum berkembang.

Urgensi pengembangan kemampuan berpikir abstrak untuk perubahan sosial

Masyarakat yang telah memiliki kepekaan (kepekaan = daya abstraksi persepsi dan kemampuan mensintesa informasi secara cepat dan rinci) akan mampu untuk menemukan masalah dan solusinya dalam realita sosial, sehingga dalam perilakunya sehari-hari, tiap individu tersebut akan secara otomatis bergerak secara solutif dalam setiap perilaku, kata, sikap dan keputusannya. Sementara mereka yang kemampuan oleh pikirnya masih bergerak dalam tataran realitas materi kongkrit akan cenderung untuk menjadi budak persepsi sesaat dan akan memperhambakan diri atas materi. Mereka yang seperti itu akan cenderung menjadi sumber kerusakan atau minimal mereka hanya statis dan apatis, tidak solutif dalam perannya terhadap bangunan sosial secara umum.

Bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir abstrak dalam masyarakat?

Jawaban untuk hal ini sangat mudah yaitu belajar dan mengajarkan agama Islam di dalam masyarakat. Mengapa Islam? Pembahasan ini akan dilakukan dalam sudut pandang psikologi kognitif.
Dalam Islam diajarkan tentang konsep Illahiyah (keTuhanan) yang sifatnya supra rasional dan ini berarti ultra abstrak; bahkan tidak terjangkau oleh pemikiran manusia. Dengan mengucapkan syahadat saja, seseorang sudah keluar dari kungkungan pola pikir realitas materi kongkrit dan terjadi pembebasan (liberasi/tahrir) ke arah kemampuan berpikir yang sifatnya tidak terbatas. Inilah yang dimaksudkan dengan Islam membebaskan manusia dari perbudakan.

Pembebasan yang terjadi dengan pengucapan syahadat ini adalah dari perbudakan atau penghambaan manusia terhadap kebutuhan dan realitas materi kongkrit yang mengukungnya, ke arah perkembangan kemampuan berpikir yang tak terbatas!!. Inilah mengapa generasi awal umat ini meraih kegemilangan pemikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagai penemuan yang menjadi landasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang hingga masa kini. Karena secara fitrah, otak manusia memiliki kemampuan yang tinggi. Sebutlah sejumlah nama seperti Jabir Ibnu Hayyan, Ja’far Ash Shiddiq, Ibnu Sina, Imam Syafi’I, dan lain-lain yang menghasilkan puluhan hingga ratusan buku ilmu pengetahuan dan tak terhitung penemuan yang telah mereka lakukan.

Dan diperlukan syahadat/persaksian itu adalah sebagai penegasan bahwa realitas kongkrit keberadaan manusia dalam dunia materi adalah karena keberadaan realitas abstrak yang bersifat Maha Akbar, Maha Tinggi dan Maha Kuat, Maha Kuasa dan Maha Sempurna, yang supra rasional dan diluar pemikiran manusia. Maka dengan mempersaksikan diri terhadap keberadaan Illahi tersebut maka manusia mengakui dirinya sebagai bagian dari realitas kongkrit (alam semesta) yang merupakan obyek dari realitas abstrak (Illah/Tuhan) tersebut.

Dan pada saat yang sama, ia menjadi terbebaskan dari tataran/ belenggu realitas kongkrit yang selama ini mengukungnya, menjadi ke arah realitas abstrak yang tak terbatas. Maka dengan syahadat pula, semua potensi yang ada pada manusia akan berkembang tak terbatas, namun tetap aman dan tidak bersifat destruktif, karena ia menyadari supremasi Allah (Allahu Akbar = Allah Maha Besar/supreme). Kesadaran akan supremasi Allah ini membuat seseorang memiliki kesadaran aktif akan keberadaan dirinya dan totalitas alam semesta yang berada di bawah kekuasaan Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala = Maha Suci Zat yang Diagungkan).

Dan oleh syahadat itu pula, maka keberadaan manusia dalam alam semesta tidak multi bebas sepenuhnya, namun bersifat pertengahan; atau bila dibahas dalam kerangka istilah; maka obyek pelaksana penuh syahadat itu, tidak akan terjebak dalam pemikiran atau perilaku/ langkah menuju tujuan yang sifatnya serba bebas (liberat/tahrir) melainkan ada dalam posisi moderat (pertengahan/ wasathan).

Mereka yang telah memahami dan memaknai syahadat dengan sebenar-benarnya ini kemudian menjadi bagian masyarakat yang bisa beroperasi secara penuh (fully functioned person); menjadi tenaga penggerak dan pembaharu dalam masyarakat; dan menjadi solusi di tengah-tengah umat. Dan urgensi syahadatain ini tidak terbatas usia, apakah itu remaja atau orang dewasa.

Tulisan ini sekaligus menegasikan / membantah sejumlah proposisi fitnah :
- bahwa agama adalah candu bagi masyarakat (wacana sosialisme/komunisme)
- bahwa agama menjadikan manusia tidak produktif (wacana kapitalisme)
- bahwa agama membuat pemikiran pemeluknya terhambat (wacana atheisme)
- bahwa agama tidak boleh dicampur adukkan dalam kehidupan (wacana sekulerisme)

Dan tulisan ini juga menegaskan postulat berikut :
- Bahwa Islam adalah agama yang fitrah ; diperlukan manusia
- Bahwa Islam adalah agama yang benar ; sumber dari segala sumber ilmu dan petunjuk/hukum.
- Bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Pemilik Alam Semesta (Allah SWT)
- Bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh dan universal.

Based on Allah SWT berfirman :
"Wa Qaatilu, Hatta Laa takuuna Fithnah, wa Yakuunad Diinu Kulluhuu Lillaah "
(dan perangilah mereka, sampai tidak ada lagi fitnah, dan keseluruhan agama ini hanya milik Allah).
:: hamba kecil running in combat mode dalam Perang Pemikiran dan Akhlak (Said Hawwa, 2002)::
Skor 1 : 0 untuk kemenangan hamba kecil melawan wacana Islam liberal dan gerakan golongan pembebasan!!
:: Tausiyah ::
Allah SWT berfirman dalam Q. S. Al An’am ayat 159 :
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan*), tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan pada mereka apa yang telah mereka perbuat."
*) = maksudnya : segala golongan atau agama yang sesat dan menyimpang dari jalan yang haq.

Dan Allah SWT berfirman dalam Q. S. Al An’am ayat 157 - 158 :
"Atau agar kamu (tidak) mengatakan : "Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka". Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling"
"Yang mereka nanti-nantikan tidak lain hanyalah kedatangan malaikat untuk mencabut nyawa mereka atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu*). Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya .Katakanlah: "Tunggulah olehmu sesungguhnya kamipun menunggu (pula)"

*) = sebagian tanda kiamat, yaitu terbitnya matahari dari Barat.

Next : bagaimana agar perubahan sosial tidak berhenti dalam tataran wacana?

Dan Allah SWT berfirman dalam Q. S. Al An’am ayat 162 - 164 :

"Katakanlah : Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah utnuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada Sekutu bagiNya; dan demikianlah itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. Katakanlah : Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan".

1 Comments:

At 3:09 AM, Anonymous prim.tina99@gmail.com said...

btw kan sosialisme atau komunisme kan salah satu sistem ekonomi dan politik dan ga da sangkut pautnya sama agama.

candu menurut Marx itu, dia melihat bahwa masyarakat cenderung pasrah dengan kondisi atau keadaan yang dialaminya. kondisi ini, seperti orang miskin, yang pasrah dengan keadaannya dan memilih menjadi pengemis atau tanpa adanya usaha (bekerja).
kenyataannya, saat ini persaingan ekonomi global, kalau kita tidak berusaha untuk merubah nasib kita, kita akan terkungkung kepada lingkaran kemiskinan yang membuat kualitas hidup kita semakin terpuruk.
padahal, Allah tidak akan merubah nasib kaum-Nya, jika kaum-Nya tidak mau berusaha..

 

Post a Comment

<< Home