Friday, June 19, 2009

Mohon lindunganMu Yaa Allah..

Ya Rabb..

lindungi aku dari dosa terbesar yang datang dari dalam diriku sendiri..

dari rasa ujub dan riya

yang bisa menjauhkanMu dariku..

dari rasa takabur

yang bisa mengusir hidayahMu dariku..

dari rasa lemah

yang bisa menutup kesempatan yang Kau bukakan untukku..

dari rasa takut

yang bisa menghambat semua peluang yang Kau berikan untukku..

dari rasa sakit

yang bisa menghindarkan semua tantangan yang Kau siapkan untuk ku lewati..

dari rasa ragu

yang bisa menutup semua kekuatanMu yang Kau berikan untuk menghadapi cobaan yang Kau berikan padaku

dari rasa buruk yang datang dari syaitan
dari permusuhan dan kebencian mahlukmu yang datang dari syaithan

untukMu pemilik semua Nama-nama dan kemuliaan yang Kau miliki Yaa Rabb..

kumohon perlindungan padaMu untuk berjalan di atas bumi yang Kau miliki
dengan penuh keselamatan


amiiinn Yaa Rabbal Alamiiin..

Friday, May 22, 2009

Pendidikan Kebahagiaan

mungkin karena yg satu ini tidak menghasilkan uang, atau kurang berguna buat daya saing bangsa, maka gak kepikiran kali yah buat bikin ini suatu hal yg resmi.. dan jadilah satu dunia yang penuh dengan manusia yang tidak bahagia..

padahal ada 2 jenis kecerdasan yang terang-terangan tertulis; kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. kemampuan untuk hidup bahagia sendiri maupun bersama orang lain. jadi akan ada fondasi saintifik untuk terus mengembangkan hal yang satu ini.. aman lah...

sebenarnya kebahagiaan mungkin tidak perlu diajarkan, karena setiap orang bisa belajar sendiri. tidak seperti rumus-rumus fisika yang gak mungkin kita temukan sendiri kalau kita gak niat, rumus-rumus kebahagiaan bisa dengan mudah terjabarkan, karena masing-masing dari kita punya 'personal tutor' yang namanya ; hati. walaupun gak semua orang terima keberadaan 'principal' dari school of happiness ini yaitu : nurani. tapi masalahnya; harus menunggu hingga seorang anak itu dewasa untuk dia akhirnya bisa lulus dari mata pendidikan yang satu ini.. dan itu mungkin akan sudah terlambat..

tapi, akankah pendidikan kebahagiaan ini mengajarkan kita untuk menjadi 'pengejar kebahagiaan' atau yang bahasa lazimnya dibilang; hedonis. hum.. makanya ini perlu benar-benar diajarkan kayaknya ya.. justru karena keberadaan hedon-isme itu..

apakah mereka yang hidupnya hedon, full of party itu benar-benar merasa bahagia? lalu mengapa banyak dari mereka yang sukses, setelah menjadi CEO, berumur 50tahun, memiliki semua hal, bersedia membayar berapapun hanya untuk melihat pertandingan bola anaknya? (steven covey, first thing first)


karena bingung hendak menulis apa, maka aku berbincang dengan ibuku, tentang apa sih pendidikan kebahagiaan itu?
"untuk mengejar kebahagiaan?" kata ibu
"bukan, untuk selalu merasa bahagia" jawabku
"oh, berarti untuk berpikir positif?" kata ibu lagi
"ya, agar tidak terpengaruh oleh pikiran negatif" kataku

nah.. jadi bisa dikembalikan ke ; ajaran religi. bahwa, hidup harus dijaga untuk bisa tetap bahagia,dengan cara menjauhkan hidup kita, dari berbagai hal yang bisa mengganggu kelangsungannya. seperti narkoba, pergaulan bebas, kecanduan pesta, dan berbagai candu lainnya.

kemampuan untuk membebaskan diri dari ketergantungan dari 'benda' dan 'bentuk'
kemampuan untuk bisa bahagia tanpa kehadiran apapun atau sesuatu pun
kemampuan untuk melepaskan diri dari kebutuhan atau ketidakbutuhan, bahkan untuk menemukan apa yang sebenarnya dibutuhkan dan tidak.
kemampuan untuk bisa berpikir mandiri dan bertindak mandiri, jauh dari konformitas, dan menemukan 'diri sendiri' dalam 'kebahagiaan sejati'. nah ini..

lalu, ke-4 kemampuan di atas, bisakah diajarkan, pada anak-anak?
satu hal mengapa aku ingin ini ada untuk benar-benar diajarkan, bukan hanya karena curhatan sahabatku sore ini tentang anaknya yang sempurna dan bahagia dalam pendapat semua orangtua di sekitarnya (yang justru membuatnya khawatir karena tidak dapat mendeteksi apa sebenarnya perasaan anaknya.. pendiam siiiihhhh...) ibu sempurna yang siap menerima apapun keadaan anaknya, bahkan bila cacat sekalipun, tapi kesulitan menghadapi kenyataan bahwa anaknya tu baik-baik saja.. (masih bisa dioptimalkan kok. sifat seperti keceriaan bisa diajarkan juga lho, biar 'bintang'nya benar-benar bersinar)

sebenarnya pendidikan karakter bukan hanya soal 4 hal diatas. buku-buku mengenai karakter yg banyak dipakai di malaysia dan singapura (untuk dibaca anak-anak ataupun guru) berisi ratusan perangkat karakter dan penjelasannya, dan bagaimana mempraktekkannya. masalahnya, belum populer di indonesia. mungkin karena pendidikan karakter masih barang mahal kali ya? (padahal ada ratusan sekolah karakter gratis lhoooooooo, dari seorang doktor perempuan dari ipb)

dan bahagia itu adalah; hasil dari karakter. berhubung sekarang zaman serba instan, rasanya tak perlu menunggu anak-anak dewasa untuk mereka bisa menemukan apa itu sebenarnya 'kebahagiaan'. dengan resiko zaman yang seperti sekarang, mungkin akan sangat terlambat, bila mereka dibiarkan untuk hidup begitu saja tanpa diajarkan apa itu sebenarnya 'bahagia'.

kenapa ini perlu? konon karena salah seorang ibu dari 2 murid dengan karakter berbeda, yang anak2nya itu pernah mengikuti CREA kids, pernah memohon untuk menyimpan berlembar-lembar kuesioner yang pernah saya berikan untuk dokumentasi kegiatan, namun tidak bisa saya kabulkan. dan.. saya duga salah satunya karena bahan kuesioner mengenai kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal itulah, yang 'menyentuh'nya. pertanyaan tentang apakah anaknya bisa mengetahui saat ia merasa bahagia atau tidak..

banyak sekali sebenarnya bahan ajar yang bisa dikumpulkan untuk 'pendidikan kebahagiaan' ini. literatur hikmah, renungan-renungan harian, semua yang mengajarkan tentang pendidikan hati, kecerdasan nurani, sifat-sifat utama, dan sebagainya. semua mengajarkan tentang ; kebahagiaan sejati.


tapi tentu saja akan banyak sekali yang harus diajarkan ya?
life planning, goal setting, dream building, not to mention character building dan emotional intelligence.. semuanya adalah ; quest to happiness, pursuit to happiness.. perjalanan dan pencarian menuju kebahagiaan sejati..

Thursday, November 27, 2008

akhir tahun penuh harapan..






belum tercapai untuk tahun ini, mudah-mudahan, segera.
.


untungnya, menemukan tulisan indah ini...

Kunjungan ke Masjid Nabawi

Penulis : Syamsul Arifin


KotaSantri.com : Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim).

Bus melaju pelan, memasuki kota yang pernah bernama Yatsrib. Berhenti di sebuah hotel. Pemandu mengarahkan kami. Menunggu beberapa saat di lobby hotel, lalu kemudian membagikan satu-persatu kunci kamar. Aku mendapat kamar bernomor 602.

Hatiku berguncang pelan. Aku tidak sabar ingin menuju tempat tersebut. Setelah meletakkan tas, mandi, dan memilih pakaian terbaik, dengan setengah berlari, aku ke luar dari hotel. Meski tanpa bekal kemampuan bahasa Arab yang fusha, aku memberanikan diri. Bertanya sebentar pada resepsionis hotel, rute yang harus kutempuh.

Perjalanan kaki yang lumayan jauh, namun aku tidak peduli. Melihat papan penunjuk jalan yang mengarahkan diriku. Berjalan sendirian, cukup jauh dan lama.

Ingatanku melayang-melayang pada buku-buku bacaan yang bersetting kemuliaan kota Madinah.

Akhirnya, terlihat dari kejauhan, menara-menaranya. Dadaku bergetar.

Aku tidak pernah menduga, bisa menuju bangunan yang memiliki dua kiblat dalam satu masjid. Masjid Nabawi. Sebuah bangunan yang megah. Besar. Allahu Akbar.

Do'a memasuki masjid kubacakan dengan khusyu kala melangkahkan kaki melewati gerbangnya, "Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMu."

Isi masjid ramai, namun tidak terlalu penuh. Aku berjalan ringan.

Shalat Sunnah dua raka'at tahiyatul masjid kukerjakan setelah memasuki masjid, ketika berada di Raudah yang mulia, taman surga, sebuah tempat di antara rumah Rasulullah dan mimbar beliau. Mengalir air mata di tengah shalat. Kerinduan itu akhirnya terobati, meski belum sempurna benar. Sesenggukan bertahan hingga akhir salam. Mengangkat tangan tanda kesyukuran, memanjatkan do'a dalam kehinaan diri.

"Ya Rabbi, hamba tidak akan pernah mungkin menyamai kedudukan RasulMu, ampunilah dosa-dosaku, selamatkan hamba dari nerakaMu, agar dapat menemui Rasulullah Muhammad SAW di akhirat nanti. Kabulkanlah, wahai zat yang Maha Mendengar pinta. Amin."

Air mata terus saja mengalir. Takut, harap, berhimpun jadi satu.

Setelah tenang, aku menuju makam Rasulullah. Sampai di sebuah tempat yang dijaga. Berdiri sekitar empat langkah dari kuburan beliau, aku mengucap salam kepada Rasulullah SAW, dengan suara pelan, aku berucap, "Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan Risalah Rabb-mu, memberi nasehat kepada ummatmu, berdakwah kepada jalan Allah dengan hikmah dan mau'idzah, dan menyembah Allah sampai kematian datang menjemputmu. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu, kepada keluargamu, dan para sahabatmu."

Setelah itu, aku memalingkan hadapan ke arah Kiblat, dan bergeser sedikit ke kanan seraya memanjatkan do'a, "Ya Allah, Engkau telah berfirman dan firmanMu benar, "Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa : 64). Kini aku telah datang kepadaMu seraya meminta ampunan dari segala dosa-dosaku dan mengharapkan syafaatMu di hadapanMu kelak. Ampunilah aku sebagaimana Engkau telah mengampuni generasi para sahabat yang pernah hidup di zaman NabiMu."

Terbayang wajah orangtua dan saudara-saudariku di Indonesia. Kupanjatkan do'a bagi mereka dan bagi diriku, "Ya Allah, berkahilah keluargaku, berkahilah ayahku, berkahilah ibuku, berkahilah kakakku, berkahilah adik-adikku, dan kumpulkanlah kami kembali di surgaMu yang penuh dengan kenikmatan yang kekal abadi. Janganlah Engkau memisahkan kami di akhirat nanti, setelah Engkau mempersatukan kami di dunia ini. Rahmatilah kami, tunjukilah kami, cintailah kami, dan tuntunlah kami dalam cahayaMu yang tiada pernah pudar, dalam kelimpahan iman kepadaMu, dalam naungan hidayahMu. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Air mataku tak terbendung, meleleh, mengalir pelan.

Kembali kupalingkan pandangan ke arah makam Rasulullah, teringat di sana ada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, ayahanda Ummul Mukminin, Aisyah RA. Di samping beliau, ada pula Umar Ibnu Khattab, dan terbayang dalam benakku, bagaimana Aisyah harus menghijabi dirinya ketika Umar dikuburkan di samping suaminya, sebab ia bukan muhrimnya.

Ah, di masjid ini, Abu Bakar pernah menjadi imam ketika Rasulullah SAW jatuh sakit. Sebuah shalat yang unik, dimana Abu Bakar bermakmum kepada Rasulullah SAW yang shalat dalam keadaan duduk, sedang Abu Bakar mengimami kaum muslimin dalam keadaan berdiri.

Umar bin Kattab menjadi seorang syuhada di masjid ini, karena ditikam oleh seorang budak Majusi, hasil rampasan perang setelah mengalahkan Romawi, yang menikam beliau dengan menggunakan belati bermata dua, ketika sedang memimpin shalat subuh. Terbayang dalam benakku, darah berceceran di tempat imam shalat.

Para khulafaur rasyidin diangkat menjadi khalifah di masjid ini. Menantu Rasulullah SAW, sang pemilik dua cahaya, Utsman bin Affan salah satu contohnya.

Teringat pula bagaimana Ali bin Abu Thalib berkata dalam salah satu tausyiahnya, setelah beliau shalat fajar dan matahari meninggi di atas dinding masjid sejauh satu tombak, beliau berkata, "Demi Allah, aku telah melihat para sahabat Muhammad SAW, namun sekarang aku tidak melihat seorang pun yang menyerupai mereka. Mereka mengerjakan shalat fajar dengan wajah coklat, rambut acak-acakan dan berdebu, di antara kedua mata mereka terdapat bekas kapalan karena mereka melalui malam dengan sujud dan berdiri karena Allah. Mereka membaca kitabullah, berdiri silih berganti antara dahi dan telapak tangan mereka. Pagi harinya mereka berdzikir mengingat Allah, mereka bergoyang seperti goyangnya pepohonan pada hari angin kencang. Air mata mereka berlinang, hingga pakaian mereka basah. Demi Allah, seolah-olah orang sekarang melewati malam dalam keadaan lalai."

Oh, alangkah sedihnya diriku. Di masa beliau saja sudah seperti itu keadaannya, sedang diriku sangatlah jauh dari itu. Kecut hati.

Aku berjalan berkeliling, lalu kemudian duduk di salah satu pilar masjid. Seorang syeikh sedang dikerumuni para jama'ah. Aku ikut mendekat. Ingin mencoba mendengar, mencari keutamaan.

Terbayang dalam benakku, imam Malik bin Anas, salah satu mutjahid mutlak, pionir mazhab Maliki mengajar di sini. Berjenggot rapi, berpakaian wangi, bersuara tenang, mengajarkan kitab Al-Muwatta, yang terseleksi. Hadir di antara salah seorang murid beliau, Imam Syafi'i, pionir mazhab Syafi'i, turut mendengarkan, terdorong kerinduannya kepada sang guru, ia mengunjungi Madinah setelah berpergian belajar di Irak. Imam Malik melihat beliau, menyambutnya, dan memerintahkan untuk melanjutkan pelajaran, sebuah kitab yang dengan sangat mudah dihapalkan dan dimengerti Imam Syafi'i.

Oh, alangkah indahnya, bahagianya bisa berada di sini, di Masjid Nabawi yang mulia.

Di Mana Letak Kebahagiaan?




KotaSantri.com : Konon di sebuah negeri khayangan, Dewa memanggil ketiga orang pembantunya. Sambil memperlihatkan sesuatu, Dewa berkata, "Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah, sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah, sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih."

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga pembantu itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya?

Pembantu pertama mengusulkan, "Letakan di puncak gunung yang tinggi." Tetapi para pembantu yang lain kurang setuju.

Lalu pembantu kedua berkata, "Letakkan di dasar samudera." Usul itu pun kurang disepakati.

Akhirnya pembantu terakhir membisikkan usulnya. Ketiga pembantu tersebut langsung sepakat. Malam itu juga, ketika semua orang sedang tidur, ketiga pembantu itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu, kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga pembantu dewa secara rapi. Di mana mereka meletakkannya? Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh pembantu pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan pembantu kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh pembantu ketiga.

Di manakah para pembantu dewa tersebut menyimpan kebahagiaan itu? Ternyata kebahagian itu sesuatu yang sangat murah, mudah, dan tidak memerlukan biaya mahal, tetapi sangat sulit untuk dikeluarkan dari dalam diri kita. Mereka menyimpannya di hati yang bersih.

Tuesday, November 25, 2008

Tausiyah dari "Sang Murabbi"

---walau jasadnya telah tiada, tausiyahnya masih menggetarkan jiwa---


Kematian Hati
(Alm) Ust. Rahmat Abdullah


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.

Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat.Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.

Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku".

Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. "Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku"

Sunday, October 05, 2008

Taqabalallahu minna wa minkum...

Eid Mubarak!!

Taqabalallahu Minna wa Minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal aidin wal faidzin

untuk semua muslim di dunia...

Monday, May 26, 2008

Kesejatian Pribadi

sebuah tulisan yang telah sering kita baca, tapi tak bosan-bosannya untuk kita renungi..


IKHWAN SEJATI


Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”

Sang Ibu tersenyum dan menjawab…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan.

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.

Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?

Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.




AKHWAT SEJATI

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”

Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.

Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.

Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”

Monday, October 22, 2007

memulai kembali perjalanan panjang..





tanpa kekuatan ramadhan, tiga ratus sekian hari berikutnya, akan terasa amat berat...
namun itu harus dijalani. .


mengarung di angkasa kehidupan
Syawal 1428 H



kebebasan sesungguhnya mendatangkan tanggung jawab yang besar, untuk meniti prestasi
seperti langit yang berbatas udara, yang tak terlihat, batas usaha kita pun tak kasat mata..





sampai dimana kita akan berjuang untuk memacu kecepatan kita dalam mengarung langit kehidupan kita?




apakah kita akan dikuasai oleh rasa takut, dan beku oleh dinginnya udara yang makin pekat ?




ataukah kita bisa mencoba terbang dengan kendali penuh pada diri kita, agar setiap manuver hidup yang kita lakukan tak kan melukai diri kita sendiri?




seperti yang diajarkan Ramadhan pada kita;
latihan untuk memiliki kendali penuh atas diri..




selanjutnya, setelah Ramadhan, kendali itu harus sudah kita gunakan sebagai sistem operasi bertindak,


yang bukan hanya wacana sementara, tapi perangkat sistem kehidupan yang kita adopsi ke dalam diri,



kendali internal atas diri dan perilaku, sikap kita, pikiran dan lisan kita.










(hasil dari sekian jumlah kaset motivasi plus aneka buku positif yang kulahap habis ramadhan ini)




Selamat mengarung langit kehidupan, sahabat dan saudara/i ku..!!



Semoga Pelatihan yang diberikan oleh Ramadhan ini bisa kita gunakan di bulan-bulan berikutnya...
DENGAN PENUH DOA DAN KESUNGGUHAN,
GINA AL ILMI MENGUCAPKAN;
"TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM,
SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM,
MINAL 'AIDIN WAL FAIDZIN"
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
agar hidup kita jadi sebuah doa
Gina Al ilmi