Sunday, July 11, 2004

Meretas jalan kebangkitan

Untuk sampai pada kemenangan yang perlu kita lakukan adalah menghimpun kekuatan-kekuatan yang terserak pada tiap diri. Bersatu dan melangkah dalam satu barisan yang kekokohannya tidak bisa ditembus dan diterpa oleh kekuatan apapun dan mampu menghadapi godaan dasyat sekalipun.
Kekuatan fikrah yang berpadu dengan kekuatan materi dan spiritual akan dengan kokoh menopang sendi dakwah dalam tiap titiknya. Sunatullah yang terjadi dalam masyarakat internasional yang tak bisa kita pungkiri adalah adanya kekuatan global yang berkonspirasi berusaha menghancurkan Islam. Ini harus bisa kita atasi dengan mengaktifkan serangkaian sumber daya yang kita miliki.
Kekuatan jamaah yang solid akan bisa menembus, membangun, dan membangkitkan masyarakat akan fitrah keislamannya. Masyarakat yang telah tertanam dalam dadanya kecintaan pada Islam ini akan mampu membangun kekuatan yang lebih besar dalam lingkup yang lebih luas.
Telah nyata semuanya. Kita songsong dengan perjuangan yang semakin keras dan semakin kuat. Totalitas perjuangan. Di era da’wah yang semakin terbuka ini tantangan terbesar kita setelah mengokohkan eksistensi adalah membangun jati diri masyarakat muslim dalam berbagai titik kebangkitan.
Kita menginginkan masyarakat muslim yang mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, memproklamirkan kemerdekaan dari ketergantungan terhadap dunia barat dalam berbagai sendi kehidupan terutama perekonomian.
Masyarakat yang memiliki kriteria mandiri, kokoh dan syar’i ini tidak bisa dibangun kecuali dengan tiap individu yang tergabung di dalamnya berusaha dengan optimal untuk mengaktualkan potensi yang dimiliki dalam suatu barisan yang kokoh dan dengan program yang terencana dan terevaluasi.
Setiap individu dalam bangunan ini menjadi penopang, penggerak, pembangun dan penghimpun kekuatan di masyarakatnya. Tujuan yang ingin dicapai adalah keunggulan masyarakat itu sendiri dalam semua bidang kehidupan.
--Masyarakat yang berada dalam satu kawasan yang sama, menghimpun satu kepemimpinan dan menjaga dirinya sendiri dalam satu ideologi bersama. Masyarakat itu kemudian menjadi suatu bangsa (nation). Dan pemerintahannya menjadikannya negara.-- Bangunan kemasyarakatan seperti diatas merupakan pola umum bangsa-bangsa di dunia.
Tapi kita berbeda dengan mereka. Pemimpin kita adalah Al Qur’an. ideologi dan penuntun kita adalah Islam, teladan dan panutan abadi kita adalah Nabi Muhammad SAW. Sumber kekuatan kita yang terbesar adalah Allah Azza wa Jalla, dan penghimpun kesatuan kita adalah keimanan yang benar dalam Aqidah yang kokoh.
Penjaga perjuangan kita adalah keikhlasan dan profesionalitas. Penopang bangunan kemasyarakatan kita adalah akhlak yang kokoh dan intelektualitas yang tinggi. Dan perubah terbesar dalam bangunan kemasyarakatan kita adalah tarbiyah islamiyah dengan semua kebersihan fikrah dan beracuan pada sirah nabawiyah.
Maka tidak ada dari kekuatan manapun di dunia yang akan mampu mengalahkan masyarakat yang semacam itu. Tapi kita belum lagi menjadi kekuatan yang diperhitungkan bila kita tidak mulai bergerak. Baru beberapa tahun yang lalu, masyarakat dunia dikejutkan dengan invasi barat ke negeri-negeri Islam. Kini, masih belum usai, bahkan negeri-negeri itu kini berada dalam penjajahan barat. Dan, negeri Islam yang berada disekitarnya tidak berdaya untuk membantu, bahkan mengokohkan kaki tangan barat dengan menyediakan diri sebagai pangkalan militer. Bahkan, diam saja menghadapi saudaranya sendiri dijajah.
Irasionalitas ini sungguh tidak bisa ditolerir lagi. Betapa fakta telah diputar balikkan begitu rupa sehingga dengan mudahnya kita menjadi boneka dan main-mainan barat. Dan masyarakat kita makin dimanja dengan berbagai tayangan hiburan dan kebangkitan yang diharapkan itu hanya menjadi angan semu. Dimana penggerak perubahan itu sekarang berada? Untuk menjawab pertanyaan ini, Nabi telah berkata dalam sebuah haditsnya “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu”.
Maka jangalah kita menjadi orang-orang yang mengingkari nikmat dengan menganggap pertanggungjawaban besar itu tidak ada, Seluas apa lingkup pertanggung jawaban itu, adalah kita yang harus merumuskannya sendiri. Ada tanggung jawab yang diberikan, dengan adanya suatu kedudukan atau tugas yang harus kita emban. Ada juga tanggung jawab yang terjadi secara sosial, dalam artian, kita yang lebih tahu, lebih memahami, dan bisa mengkontribusikan solusi yang diperlukan, maka berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan, sebagai bentuk dari pertanggung jawaban sosial kita.
Sesungguhnya, muslim itu mempunyai pertanggungjawaban seluas langit dan bumi. Bahwa manusia telah dibebani tanggung jawab kepemimpinan atas alam semesta sejak keberadaan manusia pertama. Dan satu demi satu individu mulai menebarkan rahmat yang diberikan Allah lewat akal, ruh dan jasadnya, dan membangun bumi ini sepanjang hidupnya sebagai suatu bentuk ibadah.
Kita yang lahir saat bilangan penduduk bumi mencapai hitungan milyar, apakah memiliki tanggung jawab yang sama? Apa jawabannya.. tentu saja jawabannya adalah Ya. Bilangan jumlah manusia yang ada di satu wilayah tidak menyebabkan manusia itu menjadi kekurangan dalam hal tanggung jawab. Mas’uliyah, kepemimpinan, atau pertanggungjawaban muslim atas alam raya dan seisinya tidaklah dibagi dalam hitungan tertentu. Apa yang kita emban adalah sebanyak apa yang kita lakukan dan apa yang kita ambil. Seperti sebuah hadits, “dimana seorang muslim berada, maka ia bertanggung jawab atas keadaan keislaman di tempatnya itu”.
“Kapan saatnya kita memulai?”. Begitu kita mengetahui sesuatu, maka kewajiban kita adalah untuk menyampaikannya, walau hanya satu ayat. Dan kita yang sudah mengetahui banyak hal, membekali diri dengan banyak keterampilan, menghimpun kekuatan dalam banyak organisasi, maka sebanyak itu pula, dan sebesar itu pula tanggung jawab kita atas diri kita, pengetahuan kita, dan keberadaan kita di dunia. Bagaimana kita memulai? Jawabannya adalah dengan beramal jama’i. Kita bekerja bersama dalam satu barisan, menyusun rencana yang tepat sasaran, baik dan berguna, lalu melaksanakannya bersama dengan saling menguatkan. Kendali dilakukan dalam bentuk evaluasi bersama dalam syuro-syuro dengan adab yang baik.
Dan pada mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam menganalisis situasi dan mampu menuliskannya untuk mengentaskan perubahan kearah yang lebih baik, maka lakukanlah. Kekuatan terletak dalam hujjah, gerak dan pena kita, sebesar apa langkah yang kita lakukan, diri kita yang menentukannya, maka, mulailah hari ini. “Sampai tidak ada lagi fitnah, dan keseluruhan agama ini hanya milik 4JJ1”.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home