Thursday, September 23, 2004

Kembalinya generasi pesta, buku dan cinta

Generasi ini merupakan hasil dari pembungkaman dan pembodohan besar-besaran yang dilakukan pada mahasiswa Indonesia pada zaman NKK-BKK. Mereka waktu itu manut saja pada suapan kemanjaan dan terlena dalam budaya hedonisme yang sengaja disebarkan untuk melemahkan mereka dari perannya sebagai generasi muda yang aktif, jeli dan kritis. Mereka saat itu melepaskan fungsi kontrol sosial dan peran sebagai agent of change dengan bersikap sebebas-bebasnya dengan mengusung semboyan pesta, buku dan cinta (a’udzubillah..).
Tapi apa yang mereka lakukan sekarang? Saat mahasiswa muda kita telah berhasil menggerakkan lokomotif reformasi, mereka buru-buru menguasai semua lini. Padahal, mereka bukan unsur perubah yang mempunyai visi yang bersih. Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar peduli. Mungkin mereka sudah bertaubat? Semoga saja begitu. Karena bila tidak.. negara ini ada dalam titik bahaya
Yang jelas, ada kekhawatiran besar kita, bahwa mereka akan mewariskan atau malah melestarikan kembali budaya pesta buku dan cinta yang telah merusak bangsa. Generasi ini ada sekitar tahun 60 akhir - 80 awal. Mereka menjadi pengkonsumsi pertama westernisasi kultur dan mengagung-agungkan budaya barat dengan menjadi budak yang setia.
Merekalah yang pertama kali memproduksi tayangan film/foto/media semi porno (atau porno). Mereka juga yang dan menjadi pelaku pertama korupsi, kolusi dan nepotisme untuk memuaskan kebutuhan mereka akan kemewahan. Mereka melakukan konsumsi berlebihan, menghabiskan cadangan sumber daya hayati dan sumber daya non hayati dan menjadi penjual pertama aset negara (bahkan dengan rasio yang idiot-lihat freeport-).
Generasi yang datang sesudahnya terselamatkan dengan keprihatinan yang tinggi akan da’wah untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari kehancurannya. Tapi Indonesia tidak akan pernah sama lagi. Penulis mendengar penuturan tentang generasi bersih yang Islami yang menjadi pejuang penegakan kemerdekaan (M. Hatta, M. Natsir, Bung Tomo dll) dan membebaskan negeri dari penjajahan. Yang dengan kebersihannya itu menegakkan Indonesia sebagai negara besar yang berdaulat penuh.
Tapi yang datang setelah mereka adalah generasi yang terbuai dalam berbagai kemudahan. Yang mengambil hutang yang besar, melakukan perampokan besar besaran (dalam bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme), merusakkan bangsa dengan budaya hedonisme yang keterlaluan dan hampir asusila.
Lalu.. mereka sekarang masih ingin berkuasa. Hahaha!! Jawabannya tidak, tentu.. Kami yang masih muda akan selalu mengingatkan anda-anda. Awas saja kalau sampai melakukan kesalahan yang sama. Anda-anda tidak akan mempunyai kesempatan sedikitpun. Saksikan kami generasi yang masih sangat muda ini, yang akan menghentak dan menghukum anda yang mencoba menjerumuskan kembali negara ini. Kalian kira reformasi sudah mati? Tidak!! Masih ada kami. Dan kami tidak bisa mati. Kami adalah generasi yang memiliki pewarisan visi yang kokoh.
What ever u do… we’re watching…
and we’ll do something.. something that u most fear… saying the truth!

demi negeri hijau biru yang adil sejahtera : dari generasi yang bersih dan peduli

ditulis sebelum pilpres putaran pertama, tapi kekhawatiran misleading membuat memilih diam. kini, walau telah ada tekad baik untuk memperbaiki diri, tetap saja kekhawatiran itu ada, malah mungkin semakin bertambah..
untuk harapan baru negeri kami..

0 Comments:

Post a Comment

<< Home