Thursday, November 27, 2008

akhir tahun penuh harapan..






belum tercapai untuk tahun ini, mudah-mudahan, segera.
.


untungnya, menemukan tulisan indah ini...

Kunjungan ke Masjid Nabawi

Penulis : Syamsul Arifin


KotaSantri.com : Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim).

Bus melaju pelan, memasuki kota yang pernah bernama Yatsrib. Berhenti di sebuah hotel. Pemandu mengarahkan kami. Menunggu beberapa saat di lobby hotel, lalu kemudian membagikan satu-persatu kunci kamar. Aku mendapat kamar bernomor 602.

Hatiku berguncang pelan. Aku tidak sabar ingin menuju tempat tersebut. Setelah meletakkan tas, mandi, dan memilih pakaian terbaik, dengan setengah berlari, aku ke luar dari hotel. Meski tanpa bekal kemampuan bahasa Arab yang fusha, aku memberanikan diri. Bertanya sebentar pada resepsionis hotel, rute yang harus kutempuh.

Perjalanan kaki yang lumayan jauh, namun aku tidak peduli. Melihat papan penunjuk jalan yang mengarahkan diriku. Berjalan sendirian, cukup jauh dan lama.

Ingatanku melayang-melayang pada buku-buku bacaan yang bersetting kemuliaan kota Madinah.

Akhirnya, terlihat dari kejauhan, menara-menaranya. Dadaku bergetar.

Aku tidak pernah menduga, bisa menuju bangunan yang memiliki dua kiblat dalam satu masjid. Masjid Nabawi. Sebuah bangunan yang megah. Besar. Allahu Akbar.

Do'a memasuki masjid kubacakan dengan khusyu kala melangkahkan kaki melewati gerbangnya, "Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMu."

Isi masjid ramai, namun tidak terlalu penuh. Aku berjalan ringan.

Shalat Sunnah dua raka'at tahiyatul masjid kukerjakan setelah memasuki masjid, ketika berada di Raudah yang mulia, taman surga, sebuah tempat di antara rumah Rasulullah dan mimbar beliau. Mengalir air mata di tengah shalat. Kerinduan itu akhirnya terobati, meski belum sempurna benar. Sesenggukan bertahan hingga akhir salam. Mengangkat tangan tanda kesyukuran, memanjatkan do'a dalam kehinaan diri.

"Ya Rabbi, hamba tidak akan pernah mungkin menyamai kedudukan RasulMu, ampunilah dosa-dosaku, selamatkan hamba dari nerakaMu, agar dapat menemui Rasulullah Muhammad SAW di akhirat nanti. Kabulkanlah, wahai zat yang Maha Mendengar pinta. Amin."

Air mata terus saja mengalir. Takut, harap, berhimpun jadi satu.

Setelah tenang, aku menuju makam Rasulullah. Sampai di sebuah tempat yang dijaga. Berdiri sekitar empat langkah dari kuburan beliau, aku mengucap salam kepada Rasulullah SAW, dengan suara pelan, aku berucap, "Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan Risalah Rabb-mu, memberi nasehat kepada ummatmu, berdakwah kepada jalan Allah dengan hikmah dan mau'idzah, dan menyembah Allah sampai kematian datang menjemputmu. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu, kepada keluargamu, dan para sahabatmu."

Setelah itu, aku memalingkan hadapan ke arah Kiblat, dan bergeser sedikit ke kanan seraya memanjatkan do'a, "Ya Allah, Engkau telah berfirman dan firmanMu benar, "Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa : 64). Kini aku telah datang kepadaMu seraya meminta ampunan dari segala dosa-dosaku dan mengharapkan syafaatMu di hadapanMu kelak. Ampunilah aku sebagaimana Engkau telah mengampuni generasi para sahabat yang pernah hidup di zaman NabiMu."

Terbayang wajah orangtua dan saudara-saudariku di Indonesia. Kupanjatkan do'a bagi mereka dan bagi diriku, "Ya Allah, berkahilah keluargaku, berkahilah ayahku, berkahilah ibuku, berkahilah kakakku, berkahilah adik-adikku, dan kumpulkanlah kami kembali di surgaMu yang penuh dengan kenikmatan yang kekal abadi. Janganlah Engkau memisahkan kami di akhirat nanti, setelah Engkau mempersatukan kami di dunia ini. Rahmatilah kami, tunjukilah kami, cintailah kami, dan tuntunlah kami dalam cahayaMu yang tiada pernah pudar, dalam kelimpahan iman kepadaMu, dalam naungan hidayahMu. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Air mataku tak terbendung, meleleh, mengalir pelan.

Kembali kupalingkan pandangan ke arah makam Rasulullah, teringat di sana ada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, ayahanda Ummul Mukminin, Aisyah RA. Di samping beliau, ada pula Umar Ibnu Khattab, dan terbayang dalam benakku, bagaimana Aisyah harus menghijabi dirinya ketika Umar dikuburkan di samping suaminya, sebab ia bukan muhrimnya.

Ah, di masjid ini, Abu Bakar pernah menjadi imam ketika Rasulullah SAW jatuh sakit. Sebuah shalat yang unik, dimana Abu Bakar bermakmum kepada Rasulullah SAW yang shalat dalam keadaan duduk, sedang Abu Bakar mengimami kaum muslimin dalam keadaan berdiri.

Umar bin Kattab menjadi seorang syuhada di masjid ini, karena ditikam oleh seorang budak Majusi, hasil rampasan perang setelah mengalahkan Romawi, yang menikam beliau dengan menggunakan belati bermata dua, ketika sedang memimpin shalat subuh. Terbayang dalam benakku, darah berceceran di tempat imam shalat.

Para khulafaur rasyidin diangkat menjadi khalifah di masjid ini. Menantu Rasulullah SAW, sang pemilik dua cahaya, Utsman bin Affan salah satu contohnya.

Teringat pula bagaimana Ali bin Abu Thalib berkata dalam salah satu tausyiahnya, setelah beliau shalat fajar dan matahari meninggi di atas dinding masjid sejauh satu tombak, beliau berkata, "Demi Allah, aku telah melihat para sahabat Muhammad SAW, namun sekarang aku tidak melihat seorang pun yang menyerupai mereka. Mereka mengerjakan shalat fajar dengan wajah coklat, rambut acak-acakan dan berdebu, di antara kedua mata mereka terdapat bekas kapalan karena mereka melalui malam dengan sujud dan berdiri karena Allah. Mereka membaca kitabullah, berdiri silih berganti antara dahi dan telapak tangan mereka. Pagi harinya mereka berdzikir mengingat Allah, mereka bergoyang seperti goyangnya pepohonan pada hari angin kencang. Air mata mereka berlinang, hingga pakaian mereka basah. Demi Allah, seolah-olah orang sekarang melewati malam dalam keadaan lalai."

Oh, alangkah sedihnya diriku. Di masa beliau saja sudah seperti itu keadaannya, sedang diriku sangatlah jauh dari itu. Kecut hati.

Aku berjalan berkeliling, lalu kemudian duduk di salah satu pilar masjid. Seorang syeikh sedang dikerumuni para jama'ah. Aku ikut mendekat. Ingin mencoba mendengar, mencari keutamaan.

Terbayang dalam benakku, imam Malik bin Anas, salah satu mutjahid mutlak, pionir mazhab Maliki mengajar di sini. Berjenggot rapi, berpakaian wangi, bersuara tenang, mengajarkan kitab Al-Muwatta, yang terseleksi. Hadir di antara salah seorang murid beliau, Imam Syafi'i, pionir mazhab Syafi'i, turut mendengarkan, terdorong kerinduannya kepada sang guru, ia mengunjungi Madinah setelah berpergian belajar di Irak. Imam Malik melihat beliau, menyambutnya, dan memerintahkan untuk melanjutkan pelajaran, sebuah kitab yang dengan sangat mudah dihapalkan dan dimengerti Imam Syafi'i.

Oh, alangkah indahnya, bahagianya bisa berada di sini, di Masjid Nabawi yang mulia.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home